Ujian Nasional (UN)
sudah semakin dekat, tanggal 6-8 Mei mendatang siswa tingkat sekolah
dasar akan melaksanakan UN. Semua yang terlibat berusaha untuk
mempersiapkan diri menghadapi ujian nasional yang mengujikan tiga mata
pelajaran itu, mulai dari guru, orang tua bahkan siswa sendiri.
Berbagai kiat dan strategi dilakukan untuk menyiapkan diri agar dapat
mengerjakan berbagai soal yang diujikan dengan benar sehingga dapat
lulus dan memperoleh nilai maksimal. Tanpa kiat persiapan yang tepat,
hasilnya tentu tidak akan optimal pada saat ujian.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para guru, orang tua dan
siswa saat tengah mempersiapkan diri. Terkadang anak-anak belajar dengan
'mati-matian' semua materi yang ada tanpa strategi yang benar sehingga
justru bisa membuat tidak fokus pada pelaksanaannya.
Inilah 4 strategi sukses hadapi UN 2013 yang diungkapkan oleh Pemerhati Pendidikan, Saufi Sauniwati, seperti dikutip dari Kompas.com (27/3/2013):
1. Jangan hanya menghafal
Kiat pertama mempersiapkan diri menghadapi ujian adalah penguasaan bahan
yang akan diujikan. Yang dimaksud pada penguasaan bahan ini bukan hanya
menghafal semua materi yang ada. Namun, agar lebih mudah, biasakan diri
berlatih soal untuk mengaplikasikan rumus yang ada dengan tepat.
2. Rajin mengevaluasi diri
Kiat kedua untuk sukses UN adalah rajin melakukan evaluasi diri. Ini
berkaitan dengan latihan soal yang dilakukan oleh siswa. Latihan saja
tidak cukup apabila tidak dievaluasi dengan baik. Evaluasi ini tidak
hanya sekadar menilai benar dan salah, tetapi juga harus dievaluasi
durasi pengerjaan soalnya.
3 Istirahat dan jaga kesehatan
Kiat ketiga menghadapi ujian adalah membagi waktu antara belajar dan
melepaskan penat (istirahat). Saat menjelang UN, anak-anak biasanya
belajar tiada henti dan ikut berbagai macamtry out. Hal ini akan bermasalah jika tidak ada jeda untuk meregangkan pikiran dan dapat berakibat anak mengalami stress.
3. Berdoa
Kiat terakhir tentu saja berdoa agar diberi kelancaran. Tidak heran jika
banyak sekolah yang kemudian menggelar doa bersama saat menjelang UN.
Dengan berdoa ini, siswa dan guru dapat memperoleh ketenangan tersendiri
sebelum dan saat UN.
Kurikulum 2013 untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan sederajat,
rencananya akan menggunakan metode tematik integratif. Metode ini
sebenarnya bukan hal baru bagi guru SD. Di kurikulum sebelumnya pun,
untuk kelas rendah seperti kelas satu, dua dan tiga sudah menggunakan metode pembelajaran tematik.
Anak sekolah dasar (SD) yang berusia 7-12 tahun secara psikologis berada
pada masa kanak-kanak tengah, middle childhood. Usia ini menjadi masa
emas untuk belajar bahasa selain bahasa ibu (bahasa pertama). Menurut
Erikson, tokoh psikososial, kemampuan berbahasa anak pada usia ini lebih
berkembang dengan cara berpikir konsep operasional konkret. Kondisi
otaknya masih plastis dan lentur sehingga penyerapan bahasa lebih mudah.
Ketika anak berusia 6-13 tahun atau berada di bangku sekolah dasar, area
pada otak yang mengatur kemampuan berbahasa terlihat mengalami
perkembangan paling pesat. Pada usia SD seperti itu biasa disebut juga
sebagai critical periods.
Kemampuan anak pada usia SD dalam proses kognitif, kreativitas, dan divergent thinking berada pada kondisi optimal. Berdasarkan hasil riset teknologi brain imaging di University of California, Los Angeles, secara biologis anak usia SD menjadi waktu yang tepat untuk mempelajari bahasa asing.
Anak-anak yang belajar mempelajari bahasa asing lain mempunyai kemampuan lebih dalam tugas memori episodic, mempelajari kalimat dan kata, dan memori semantic, kelancaran menyampaikan pesan dan mengategorikannya.
Hal ini menunjukkan bahwa mempelajari bahasa asing tidak akan mengganggu
performa linguistik anak dalam bahasa apa pun. Belum ada bukti bahwa
bahasa pertama akan bermasalah jika mempelajari bahasa kedua, ketiga,
dan seterusnya sebab fase anak-anak tengah memiliki fleksibilitas
kognitif dan meningkatnya pembentukan konsep.
Anak-anak SD mampu memahami bahasa asing dengan baik seperti halnya
pemahaman terhadap bahasa ibunya dalam empat keterampilan berbahasa:
mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Oleh karena itu,
anak-anak usia SD secara biologis berada dalam masa emas untuk
mempelajari bahasa Inggris sebagai bahasa kedua setelah bahasa Indonesia. Hurlock (1993)
Di SD anak-anak lebih cenderung pada bahasa Inggris daripada bahasa
Indonesia. Inilah yang menjadi masalah, anak lebih termotivasi belajar
bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia sehingga penguasaan bahasa
Indonesia lebih jelek daripada bahasa Inggrisnya.
Seperti yang ditulis oleh Ainna Amalia FN, Dosen Psikologi IAIN Sunan Ampel, Surabaya, menghilangkan bahasa Inggris dari kurikulum SD
bukan solusi terbaik. Masalahnya ada pada sisi perhatian dan minat anak
terhadap Bahasa Indonesia. Sehingga perlu perbaikkan dan membuat
menarik pelajaran bahasa yang kurang mendapat perhatian dan minat itu.
Perlu adanya pembenahan komprehensif, baik isi maupun metode
pembelajarannya. Metode yang dipakai harus variatif dan kreatif serta
media pembelajaran yang menarik.
Penguasaan bahasa Indonesia merupakan tanggung jawab sosial anak sebagai
bahasa nasional. Di sisi lain, bahasa Inggris juga penting sebagai
bekal generasi kita dalam menghadapi era globalisasi.
Rencana perubahan kurikulum yang akan menggantikan kurikulum sebelumnya,
yaitu kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) menuai banyak kritik.
Sejak awal rencana perubahan ini digulirkan menuai pro kontra, mulai
dari dihapusnya mata pelajaran Bahasa Inggris sampai dengan waktu
penerapan yang terkesan dipaksakan. Mulai Juni 2013, kurikulum baru ini
akan digunakan sebagai pengganti KTSP.
Draf kurikulum 2013 yang sudah dirilis dalam uji publik, dinilai oleh
Dewan Pendidikan Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki banyak kelemahan.
Pihaknya mencatat sejumlah kelemahan dari isi kurikulum yang mengurangi jumlah mata pelajaran SD dari sepuluh menjadi enam mata pelajaran ini.
Kelemahan pertama menurut Wuryadi, Ketua Dewan Pendidikan Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY), kurikulum 2013 bertentangan dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
karena penekanan pengembangan kurikulum hanya didasarkan pada orientasi
pragmatis.
Perubahan Kurikulum 2013 juga tidak didasarkan pada evaluasi dari
pelaksanaan kurikulum sebelumnya (KTSP) 2006 sehingga dapat
membingungkan guru dan pemangku pendidikan dalam pelaksanaannya.
"Saat ini, KTSP saja baru menuju uji coba dan ada beberapa sekolah yang
belum melaksanakannya. Bagaimana bisa, kurikulum 2013 ditetapkan tanpa
ada evaluasi dari pelaksanaan kurikulum sebelumnya," kata Wuryadi di
Yogyakarta (18/12/2012).
Kelemahan kedua, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)
tidak pernah langsung melibatkan guru dalam merumuskan kurikulum 2013.
Kemendikbud seolah melihat semua guru dan peserta didik memiliki
kemampuan yang sama. Dalam kurikulum 2013, Wuryadi menilai tak adanya
keseimbangan antara orientasi proses pembelajaran dan hasil.
Keseimbangan itu sulit dicapai karena kebijakan ujian nasional (UN)
masih diberlakukan
Kelemahan ketiga, yang terpenting adalah pengintegrasian mata pelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan
enam mata pelajaran baru untuk jenjang sekolah dasar (SD). Langkah menghapus mata pelajaran IPA dan IPS dinilai tidak tepat karena rumpun ilmu mata pelajaran-mata pelajaran itu berbeda.
Dengan melihat kelemahan-kelemahan kurikulum 2013, Dewan Pendidikan DIY
meminta pemerintah melakukan desain ulang. Saat ini pihaknya, seperti
dikutip dari Kompas, juga akan mengirimkan hasil kajian tersebut
kepada pihak-pihak terkait, seperti Kemendikbud, DPR RI, serta Presiden
dan Wakil Presiden RI. Bagaimana komentar Bapak Ibu? Apa yang menjadi
kelemahan kurikulum 2013, yang membuat sebaiknya kurikulm baru ini
jangan dulu diterapkan?
Sebelum kurikulum 2013 diuji publik sekitar November 2012 dan diterapkan
mulai tahun ajaran baru 2013, terlebih dahulu dipaparkan draf perubahan kurikulum
tersebut ke Wakil Presiden RI Boediono. Pada Juni 2013 nanti
direncanakan sekolah yang ada di Indonesia sudah mulai menggunakan
kurikulum baru. Penataan kurikulum pendidikan ini adalah salah satu
target yang harus diselesaikan sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 di sektor pendidikan.
Perubahan kurikulum mulai dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah
pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), dan sekolah menengah
kejuruan (SMK) ini dilakukan untuk menjawab tantangan zaman yang terus
berubah agar anak-anak ini mampu bersaing di masa depan.
Kurikulum baru SD menekankan aspek kognitif, afektif, psikomotorik
melalui penilaian berbasis test dan portofolio yang saling melengkapi.
"Siswa untuk mata pelajaran tahun depan sudah tidak lagi banyak
menghafal, tapi lebih banyak kurikulum berbasis sains," kata M Nuh.
Berikut adalah perubahan kurikulum pendidikan baru untuk tingkat SD.
Pelajaran berbasis tematik
Sebelumnya hanya pada kelas rendah saja pelaksanaan pembelajaran
tematik, dan kelas tinggi setiap mata pelajaran terkesan terpisah atau
berdiri sendiri. Untuk kurikulum baru, anak-anak SD
tidak lagi mempelajari masing-masing mata pelajaran secara terpisah.
Pembelajaran berbasis tematik integratif yang diterapkan pada tingkatan
pendidikan dasar ini menyuguhkan proses belajar berdasarkan tema untuk
kemudian dikombinasikan dengan mata pelajaran yang ada.
Hanya ada 6 mata pelajaran
Untuk tingkat SD, saat ini ada 10 mata pelajaran yang diajarkan, yaitu
Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia,
Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya dan Keterampilan, Pendidikan Jasmani
Olahraga dan Kesehatan, serta Muatan lokal dan Pengembangan diri. Pada
kurikulum baru, mata pelajaran untuk anak SD yang semula berjumlah 10
mata pelajaran dipadatkan menjadi 6 mata pelajaran, yaitu Agama, PPKn, Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, serta Seni Budaya.
Pramuka menjadi ekskul wajib
Seperti diberitakan sebelumnya, khusus untuk Pramuka adalah mata pelajaran atau ekstra kurikuler wajib
dan itu diatur dalam undang-undang. Pramuka ini akan jadi ekskul wajib
untuk berbagai jenjang tidak hanya di SD. Nantinya akan juga akan
bekerjasama dengan Kemenpora.
Bahasa Inggris hanya sebagai kegiatan ekskul
Sebelumnya terjadi polemik mengenai bahasa Inggris di SD,
yaitu bahasa Inggris akan dihapus dari kurikulum SD. Rencana
penghapusan bahasa Inggris dari kurikulum SD ini didasari kekhawatiran
akan membebani siswa dan memprioritaskan terhadap penguasaan Bahasa
Indonesia. Ternyata untuk tingkat SD ini, di kurikulum baru 2013 Bahasa
Inggris termasuk dalam kegiatan ekstra kurikuler bersama dengan Palang
Merah Remaja (PMR), UKS, dan Pramuka.
Mapel IPA dan IPS diintegrasikan dengan 6 mapel lain
Empat mata pelajaran yang dulu berdiri sendiri, yaitu IPA, IPS, muatan
lokal, dan pengembangan diri, di kurikulum baru SD akan diintegrasikan
dengan enam mata pelajaran lainnya. Untuk mata pelajaran IPA
akan menjadi materi pembahasan pelajaran Bahasa Indonesia dan
Matematika. Mata pelajaran IPS akan menjadi pembahasan materi pelajaran
Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
Sedangkan mulok dan pengembangan diri itu kaitannya nanti dengan Seni
Budaya
Belajar di sekolah lebih lama
Ternyata pemadatan mata pelajaran dalam kurikulum baru ini justru membuat lama belajar anak di sekolah bertambah.
Metode baru pada kurikulum ini mengharuskan anak-anak untuk ikut aktif
dalam pembelajaran dan mengobservasi setiap tema yang menjadi bahasan.
Untuk kelas I-III yang awalnya belajar selama 26-28 jam dalam seminggu
bertambah menjadi 30-32 jam seminggu. Sedangkan untuk kelas IV-VI yang
semula belajar selama 32 jam per minggu di sekolah bertambah menjadi 36
jam per minggu.
Itulah isi perubahan kurikulum baru yang akan diterapkan pada tahun
ajaran baru Juni 2013 untuk anak-anak SD. Sistem pembelajaran berbasis
tematik integratif ini telah dijalankan di banyak negara, seperti
Inggris, Jerman, Perancis, Finlandia, Skotlandia, Australia, Selandia
Baru, sebagian Amerika Serikat, Korea Selatan, Singapura, Hongkong, dan
Filipina. Penambahan jam belajar di
sekolah dianggap masih sesuai karena dibandingkan negara lain,
Indonesia terbilang masih singkat durasinya untuk anak usia 7-9 tahun.
Dengan pemadatan mata pelajaran dan pembelajaran berbasis tema ini,
anak-anak juga tidak akan lagi kerepotan membawa buku yang banyak dalam
tasnya.
Salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan kurikulum baru yang mulai
diterapkan pada Juli 2013 mendatang terletak kesiapan para guru. Hal ini
dikatakan oleh Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP)
Provinsi Bali Dr Made Alit Mariana M.Pd.
"Para guru harus siap untuk menerapkan dan mengimplementasikan materi
sesuai dengan kurikulum tersebut," kata Alit Mariana dikutip dari Antara (23/03/2013).
Meskipun kunci keberhasilan pelaksanaan kurikulum baru yang akan memakai metode tematik
untuk Sekolah Dasar (SD) ada di tangan guru. Namun, pemerintah terkesan
lambat melatih para guru untuk menerapkan kurikulum baru.
Pendidikan dan pelatihan (diklat) guru
yang awalnya direncanakan pada bulan Maret mundur menjadi April
mendatang. Mundurnya diklat bagi guru-guru karena anggaran di
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) belum cair.
Pada tahap awal pendidikan dan pelatihan kurikulum baru,
akan diikuti oleh guru, kepala sekolah, dan pengawas pendidikan. untuk
jenjang sekolah dasar akan diikuti guru kelas 1, guru kelas 4 dan guru
pendidikan jasmani yang sudah terpilih di masing-masing sekolah.
Dengan mundurnya jadwal pelatihan bagi guru-guru yang akan menerapkan
Kurikulum Baru dikhawatirkan berpengaruh terhadap kesiapan guru karena
waktu pelatihan sangat singkat dan mepet dengan target pelaksanaan Juli
mendatang diterapkan kurikulum baru itu.
"Awalnya pelatihan kepada guru-guru inti memang direncanakan Maret ini
harus sudah dilakukan. Namun karena anggaran di Kemendikbud belum cair,
jadi pelatihan itu molor. Namun kami memastikan pelatihan bisa digelar
pertengahan April," kata Alit Mariana.
Anggaran program pendidikan
tahun 2013 di Kemendikbud mestinya sudah bisa cair Januari lalu. Namun
karena ada perubahan anggaran sehingga masih harus melalui pengajuan dan
pembahasan di DPR-RI.
Keterlambatan pencairan anggaran itu sangat berpengaruh terhadap program
pemerintah pusat (Kemendikbud). LPMP yang merupakan kepanjangan tangan
pemerintah pusat, dengan demikian juga berpengaruh terhadap program yang
akan dijalankan LPMP. Salah satunya diklat guru dalam rangka persiapan
implementasi kurikulum baru.
Tertundanya pelatihan itu akan sangat berpengaruh kepada kesiapan guru
dalam mengimplementasikan kurikulum baru. Pada akhirnya hal ini
mempengaruhi kualitas pendidikan di daerah. Lalu bagaimana kurikulum
baru akan berhasil secara maksimal jika tidak segera dilatih?
RPP merupakan langkah-langkah yang harus dikerjakan oleh guru dalam
melaksanakan pembelajaran. Dengan kata lain RPP merupakan pedoman bagi guru
dalam kegiatan belajar mengajar. RPPbiasanya berupa petunjuk, langkah-langkah untuk memandu guru. RPP dapat
digunakan untuk semua mata pelajaran. Tugas-tugas dalam sebuah RPPditulis secara rinci tentang apa yang harus
dilakukan oleh guru maupun oleh peserta didik.
Lebih jelasnya RPP adalah rencana atau program yang disusun oleh guru
untuk satu atau dua pertemuan, untuk mencapai target satu kompetensi dasar. RPP
diturunkan dari silabus yang telah disusun dan bersifat aplikatif di kelas. RPP
berisi gambaran tentang kompetensi dasar yang akan dicapai, yang dijabarkan
pada indikator, tujuan, materi, skenario pembelajaran tahap demi tahap serta
authentic assesmentnya.
Gambaran selama ini bahwa Rencana PelaksananPembelajaran adalah laporan untuk Kepala
Sekolah atau pihak lain harus dibuang jauh-jauh. Rencana PelaksanaanPembelajaranharus dipersiapkan oleh guru di semua jenjang pendidikan, alat apa yang
harus di bawa, berapa banyak, ukuran berapa dan langkah-langkah apa yang akan
dikerjakan siswa. RPP betul-betul merupakan perencanaan pribadi guru tentang
apa yang akan dilakukannya bersama siswa baik di dalam kelas maupun di luar
kelas (out door). RPP berfungsi sebagai acuan atau pedoman untuk melaksanakan
proses pembelajaran.
Tujuan pembuatan RPP adalah mempermudah, memperlancar dan meningkatkan
hasil proses belajar mengajar. Dengan menyusun RPP secara profesional,
sistematik dan berdayaguna maka guru akan mampu melihat, mengamati,
menganalisis dan memprediksi program pembelajaran sebagai kerangka kerja yang
logis dan terencana.
Fungsi Rencangan PelaksanaanPembelajaran adalah sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan kegiatan
belajar mengajar agar lebih terarah dan berjalan secara efektif dan efisien
serta untuk meningkatkan hasil belajar sesuai dengan kompetensi yang akan
dicapai.
2. Komponen RPP
RPP dijabarkan dari silabus
untuk mengarahkan kegiatan belajar peserta didik dalam upaya mencapai KD.
Setiap guru sebelum mengajar wajib membuat RPP secara lengkap dan sistematis
agar pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspratif, menyenangkan ,
menantang, memotivasi peserta didik .untuk berpartisi aktif, serta memberikan
ruang yang cukup bagi prakarsa , kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan
bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Komponan RPP adalah :
a.Identitas mata pelajaran
1)Mata Pelajaran
2)Jenjang Pendidikan
3)Materi Pokok
4)Kelas/semester
5)Alokasi waktu
6)Pertemuan minggu ke
b.Standar Kompetensi
Standar
Kompetensi merupakankualifikasi
kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap pengetahuan
dan ketrampilan yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat atau semester pada
suatu mata pelajaran.
c.Kompetensi Dasar
Kompetensi
dasar merupakan penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi adalah sejumlah
kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu
sebagai rujukan menyusun indikator kompetensi dalam suatu pelajaran.
d. Indikator Pencapain Kompetensi
Indikator
kompetensi adalah perilaku yang dapat diukurdan/atau diobservasi untuk
menenunjukkan ketercapaian kompetensidasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator
pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional
(KKO) yang dapat diamati dan diukuryang
mencakup sikap, pengetahuan dan ketrampilan.
e. Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan
hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan
Kompetensi Dasar (KD)
a.Materi ajar
Materi ajar memuat fakta,
konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan dan ditulis dalam bentuk butir-butir
sesuai dengan rumusan indukator pencapaian kompetensi. Agar penjabaran dan penyusunan kemampuan dasar
tidak meluas dan melebar, maka perlu diperhatikan kriteria untuk menyeleksi
materi yang perlu diajarkan. Kriteria
tersebut antara lain:
1). Sahih (Valid)
Materi yang akan dituangkan dalam
pembelajaran benar-benar telah teruji kebenaran dan kesahihannya. Pengertian
ini juga berkaitan dengan keaktualan materi, sehingga materi yang diberikan
dalam pembelajaran tidak ketinggalan jaman dan memberikan kontribusi untuk
pemahaman kedepan.
2). Tingkat Kepentingan
Dalam memilih materi perlu dipertimbangkan
pertanyaan berikut : sejauh mana materi tersebut penting dipelajari? Penting
untuk siapa? Dimana dan mengapa penting? Dengan demikian, materi yang dipilih
untuk diajarkan tentunya memang yang benar-benar diperlukan oleh siswa.
3). Kebermanfaatan
Manfaat
harus dilihat dari semua sisi, baik secara akademis maupun non akademis.
Bermanfaat secara akademis artinya guru harus yakin bahwa materi yang diajarkan
dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan
dikembangkan lebih lanjut pada jenjang pendidikan selanjutnya. Bermanfaat
secara non akademis maksudnya adalah bahwa materi yang diajarkan dapat
mengembangkan kecakapan hidup (life skill) dan sikap yang dibutuhkan dalam
kehidupan sehari-hari.
4)Layak Dipelajari
Materi
memungkinkan untuk dipelajari, baik dari aspek tingkat kesulitannya (tidak
terlalu mudah, atau tidak terlalu sulit) maupun aspek kelayakannya tehadap
pemanfaatan bahan ajar dan kondisi setempat.
5). Menarik
Minat
Materi yang
dipilih hendaknya menarik minat dan dapat memotivasi siswa untuk mempelajarinya
lebih lanjut. Setiap materi yang diberikan kepada siswa harus mampu menumbuhkan
rasa ingin tahu, sehingga memunculkan dorongan untuk mengembangkan sendiri
kemampuan mereka.
b.Alokasi Waktu
Alokasi waktu
ditentukan sesuai dengan keperluan untuk mencapai KD dan beban belajar.
h. Metode Pembelajaran
.Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau
seperangkat indikator yang telah ditentukan. Penggunakan metode pembelajaran
disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didk serta karakterisatik dari
setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.
Pendekatan pembelajaran tematik digunakan untuk pesertra didik kelas 1 sampai
kelas 3 SD/MI. Ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan dalam PBM antara lain :
1)Berikan kebebasan dan bimbingan kepada siswa dalam
memaknai(konseptualisasi) materi yang
sedang dibahas, (pembelajaran pencapaian konsep dan konstruktivistik).
2)Upayakan penciptaan kegiatan yang memungkinkan siswa
bekerjasama, kolaborasi dalam memahami materi yang sedang dibahas (pembelajaran
kooperatif).
3)Berikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba atau
menerapkan materi yang telah dipelajari.
4)Gunakan berbagai macam media pembelajaran untuk
memfasilitasi siswa dalam mempertajam dan memahami materi yang sedang
dipelajari.
5)Pelihara kedisiplinan dan tanggungjawab siswa selama
proses pembelajaran dan hindari kegiatan yang berdampak mengendornya semangat
belajar siswa, sehingga menghambat aktivitas dan kreativitasnya.
6)Akhir pelajaran upayakan untuk dapat menciptakan
kegiatan-kegiatan yang dapat memelihara motivasi belajar siswa, sehingga mereka
terlatih untuk mencari tahu di luar sekolah tentang sejauh mana kebenaran dari
apa yang telah dipelajari di sekolah. Kegiatan seperti mencari umpan balik
perlu dilakukan, karena dalam mengakhiri pelajaran tanpa umpan balik akan
menjadikan siswa bingung dalam mengukur perolehan belajarnya. Di samping itu
perlu ada tindak lanjut yang perlu dilakukan siswa dalam rangka mengaplikasikan
perolehan belajarnya di sekolah dalam situasi kehidupan nyata.
Pelaksanaan pembelajaran
tersebut hendaknya berpedoman kepada RPP. Untuk beberapa alternatif
kegiatan dalam proses pembelajaran itu secara tertulis perlu dicantumkan
pentahapannya dalam mempersiapkan rencana pelaksanaanpembelajaran yaitu pada komponen kegiatan
pembelajaran.
i.Kegiatan Pembelajaran
Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah
kegiatan setiap pertemuan. Pada
dasarnya, langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka,
kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
Langkah-langkah standar yang
harus dipenuhi pada setiap unsur kegiatan pembelajaran adalah sebagai berikut:
1)Kegiatan pendahuluan
Pendahuluan
merupakankegiatan awal dalam suatu pertemuan
pembelajaran yang ditunjukkan unuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan
perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
Dalam kegiatan pendahuluan guru :
a)Menyipakan peserta
didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran
b)Mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan sebelumnya dengan materi yang
akan diajar
c)Menjelaskan tujuan
pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai
d)Menyampaikan cakupan materi
dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus
2)Kegiatan Inti
Pelaksanan kegiatan inti
merupkan prosespembelajaran untuk
mencapai KD yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan,
menantang, memotivasi, peserta didik untuk memotivasi peserta didik berpartisi
aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan
kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis
peserta didik. Kegiatan inti merupakan metodeyang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mata pelajaran
yang dapat meliputi proses eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi.
a)Eksplorasi
Dalam kegiatan eksplorasi guru :
(1)Melibatkan peserta didikuntuk mencari informasi yang luas dan dalam
tentangtopik/tema materi yang akan
dipelajari dengan menerapkan prinsip alam takambang jadi guru dan belajar dari
aneka sumber
(2)Menggunakan beberapa
pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar yang lain
(3)Memfasilitai terjadinya
interaksi antar peserta didik serta antara peserta didik denga guru,
lingkungandan sumber belajar lainnya.
(4)Melibatkan peserta didik
secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran
(5)Memfasilitasi peserta didik
melakukan percobaan di laboratorium, studio atau lapangan
b) Elaborasi
Dalam kegiatan elaborasi guru
:
(1)Membiasakan peserta didik
membaca dan menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna
(2)Memfasilitai peserta
didikmelalui pemberian tugas, diskusi
dan lain-lain untuk memunculkan gagasan baru baik secra lisan maupun tertulis
(3)Memberi ketrampilan untuk
berpikir, menganalisis, menyelesaikan masalah dan bertindak tanpa rasa takut
(4)Memfasilitasi peserta didik
dalam pembelajaran kooperatifdan
kolaboratif
(5)Memfasilitasi peserta didik
dalam berkompetensin secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar
(6)Memfasilitasi peserta didik
dalam membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis
secara individu maupun kelompok
(7)Memfasilitasi peserta didik
untuk menyajikan hasil kerja individu maupun kelompok
(8)Memfasilitasi peserta
didikmelakukan pameran, turnamen,
festival, serta produk yang dihasilkan
(9)Memfasilitasi peserta didik
melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri peserta
didik.
c) Konfirmasi
Dalam kegiatan
komfirmasi guru:
(1)Memberikan umpan balik positif
dan penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadih terhadap
keberhasilan peserta didik
(2)Memberikan konfirmasi terhadap
hasil eksplorasi dan elaborasi peserta didik melalui berbagai sumber
(3)Memfasilitasi peserta didik
melakukan refleksi untuk memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan
(4)Memfasilitasi peserta didik
untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi dasar
(a)Berfungsi sebagai nara
sumberdan fasilitator dalam menjawab pertanyaan
peserta didik yang menghadapi kesulitan, dengan menggunakan bahasa yang baku
dan benar
(b)Membantu menyelesaikan masalah
(c)Memberi acuan agar peserta
didik dapat melakukan pengecekan hasil eksplorasi
(d)Memberi informasi untukbereksplorasi lebih jauh
(e)Memberikan motivasi kepada
peserta didik yang kurang ataubelum
berpartisi aktif.
3)Kegiatan Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untukmengahiriaktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau
kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik dan tindak lanjut.
Dalam kegiatan penutup guru :
a)Bersama-sama dengan peserta didik dan/atau
sendiri membuat rangkuman/simpulan pelajaran
b)Melakukan
penilaian dan atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah dilaksanakan secara konsisten
dan terprogram
c)Memberikanumpan balik terhadapproses dan hasil pembelajaran
d)Merencanakan
kegiatan tindak lanjut dalam bentuk pembelajara remidi, program pengayaan ,
layanan konseling dan/atau memberikan tugas baik tugas individu maupun kelompok
sesuai hasil belajar peserta didik
e)Menyampaikan
rencana pembalajaran pada pertemua brikutny
J.Penilain Hasil Belajar
Prosedurdan instruman penilaian
proses hasil belajardisesuaikan dengan
indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada standar Penilaian.
Penilaian dilakukan oleh guru terhadap proses dan hasil pembelajaran
untuk mengukur tingkat pencapaian kompetensi peserta didik yang meliputi
penilaian kognitif, afektif dan psikomotor, serta digunakan sebagai bahan
penyusunan laporan kemajuan hasil belajar, dan memperbaiki proses pembelajaran.
Penilaian dilakukan secara konsisten, sistematik, dan terprogram dengan
menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis atau lisan, pengamatan
kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasil karya berupa ugas, proyek dan/atau
produk, portopolii, dan penilaian diri, Penilaian hasil pembelajaran
menggunakan standar penilaian pendidikan dan panduan penilaian kelompok mata
pelajaran.Bagi siswa kelas 1, 2,dan 3
(kelas awal) penilaian tidak menggunakan pendekatan tematik lagi, melainkan
sudah dilaksanakan secara terpisah, permata pelajaran terpadu dengan
menggunakan pendekatan tematikhanya
pada pembelajarannya saja.
k.Sumber Belajar
Penentuan
sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan komptensi dasar, serta
materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.
1.Prinsip-Prinsip Penyusunan RPP
a.Memperhatikan perbedaan individu peserta didik
RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal,
tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial,
emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang
budaya, norma,nilai, dan/atau lingkungan peserta didik.
b.Mendorong partisipasi aktif peserta didik
Proses pembelajaran dirancang dengan
berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas,
inisiatif, inspirasi kemandirian dan semangat belajar.
c.Mengembangkan budaya membaca dan menulis
Proses
pembelajaran dirancang untuk mengembangkan kegemaran membaca,, pemahaman
beragam bacaan dan berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
d.Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
RPP
membuat rancangan program pemberian umpan balik positif penguatan , pengayaan
dan remidi.
e.Keterkaitan dan keterpaduan
RPPdisusun dengan memperhatikan keterkaitn dan
keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran,
indikator pencapaian kompetensi, penilaian dan sumber belajar dalam satu
kebutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengakomodasi pembelajaran tematik,
keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar dan keragaman budaya.
f.Penerapan teknologi informasi dan
komunikasi
RPP
disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi
secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi
Keterampilan membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mempersiapkan mental dan menimbulkan perhatian siswa. Hal ini dimaksudkan agar siswa terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Kegiatan membuka pelajaran semacam itu tidak saja harus dilakukan guru pada awal jam pelajaran tetapi juga pada awal setiap penggal kegiatan dari inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Untuk menyiapkan mental siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari, guru dapat melakukan usaha-usaha dengan memberi acuan dan membuat kaitan antara materi pelajaran yang telah dikuasai siswa dengan bahan baru yang akan dipelajari. Siswa yang mentalnya siap untuk belajar adalah mereka yang telah mengetahui tujuan pelajaran, mengetahui masalah-masalah pokok yang harus diperhatikan, mengetahui langkah-langkah kegiatan belajar yang akan dilakukan, dan mengetahui batas-batas tugas yang harus dikerjakan untuk menguasai pelajaran tersebut. Untuk menimbulkan perhatian dan motivasi siswa terhadap hal-hal yang akan dipelajari, guru dapat melakukan usaha-usaha menimbulkan rasa ingin tahu, bersikap hangat dan antusias, memvariasikan cara mengajarnya, menggunakan alat-alat bantu mengajar, memvariasikan pola interaksi dalam kelas, dan sebagainya. Siswa yang perhatian motivasinya telah timbul nampak asyik dalam melakukan tugas, semangat dan kualitas responnya tinggi, ada pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan, dan cepat mereaksi terhadap saran-saran guru.
Kegiatan membuka pelajaran tidak mencakup urut-urutan kegiatan rutin seperti menertibkan siswa, mengisi daftar hadir, menyampaikan pengumuman, menyuruh menyiapkan alat-alat pelajaran dan buku-buku yang akan dipakai dan lain sebagainya yang tidak berhubungan dengan penyampaian materi pelajaran. Kegiatan membuka pelajaran ada kaitannya langsung dengan penyampaian materi pelajaran.
Kegiatan menutup pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk me-ngakhiri kegiatan inti pelajaran. Usaha menutup pelajaran tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari siswa, mengetahui tingkat pencapaian siswa dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar. Usaha-usaha yang dapat dilakukan guru antara lain adalah merangkum kembali atau menyuruh siswa membuat ringkasan dan mengadakan evaluasi tentang materi pelajaran yang baru diberikan. Seperti halnya kegiatan membuka pelajaran, kegiatan menutup pelajaran ini harus dilakukan guru tidak saja pada akhir jam pelajaran tetapi juga pada akhir setiap penggal kegiatan dari inti pelajaran yang diberikan selama jam pelajaran itu. Seperti halnya kegiatan membuka pelajaran, kegiatan menutup pelajaran juga tidak mencakup urut-urutan kegiatan rutin seperti memberi tugas dirumah, tetapi kegiatan yang ada kegiatan langsung dengan penyampaian materi pelajaran.
Namun demikian, dalam pembelajaran guru sering tidak melakukan usaha membuka dan menutup pelajaran tersebut. Setelah melakukan tugas rutin seperti menenangkan kelas, mengisi daftar hadir, menyuruh siswa menyiapkan alat-alat pelajaran guru langsung saja masuk pada kegiatan inti pelajaran. Misalnya guru berkata: “Anak-anak hari ini pak guru akan mengenalkan macam-macam bangun ruang, bangun ruang adalah ...” Setelah pelajaran usai guru tidak melakukan usaha menutup pelajaran. Ia langsung berkata: “Anak-anak waktunya sudah habis, pelajaran ini kita lanjutkan besok. Selamat siang anak-anak. Selain itu, dalam inti pelajaran yang bermaksud mengajarkan macam-macam bangun ruang dengan sifat-sifatnya, guru menerangkan terus sampai selesai tanpa ada usaha merangkum ciri-ciri bangun ruang. Disamping itu, guru juga tidak melakukan kegiatan membuka pelajaran sebelum menerangkan pengertian bangun ruang. Prosedur mengajar demikian itu tidak memungkinkan mental siswa siap untuk menerima pelajaran dan perhatian siswa belum terpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Sebagai akibatnya adalah siswa akan merasa bahwa pelajaran yang diterimanya membosankan, tidak bermakna baginya, sukar dipahami, dan mereka akan tidak berusaha keras untuk memahaminya.
Ada berbagai alasan mengapa guru tidak melakukan kegiatan membuka dan menutup pelajaran antara lain karena lupa, tidak ada waktu, atau memang belum mempunyai keterampilan untuk melaksanakannya. Karena pentingnya fungsi membuka dan menutup pelajaran ini dalam pembelajaran, maka sangat perlu bagi setiap guru untuk memperoleh pengalaman serta latihan yang intensif dalam membuka dan menutup pelajaran.
Prinsip-prinsip penggunaan
Penggunaan keterampilan membuka dan menutup pelajaran dalam pembelajaran, mempunyai pengaruh positif terhadap proses dan hasil belajar. Pengaruh positif itu antara lain:
1.Timbulnya perhatian dan motivasi siswa untuk menghadapi tugas-tugas yang akan dikerjakan.
2.Siswa mengetahui dengan pasti batas-batas tugas yang akan dikerjakan.
3.Siswa mempunyai gambaran yang jelas tentang pendekatan-pendekatan yang mungkin diambil dalam mempelajari bagian-bagian dari suatu mata pelajaran.
4.Siswa mengetahui hubungan antara pengalaman-pengalaman yang telah dikuasai dengan hal-hal baru yang akan dipelajari atau yang masih asing baginya.
5.Siswa dapat menggabungkan fakta-fakta, keterampilan-keterampilan atau konsep-konsep yang tercakup dalam suatu peristiwa, serta
6.Siswa dapat mengetahui tingkat keberhasilannya dalam mempelajari pelajaran itu, Sedangkan guru dapat mengetahui tingkat keberhasilannya dalam mengajar.
Sebagaimana keterampilan mengajar lainnya, ada prinsip-prinsip yang mendasari penggunaan komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran yang harus dipertimbangkan oleh guru. Prinsip-prinsip itu adalah sebagai berikut:
a.Bermakna
Dalam usaha menarik perhatian atau memotivasi siswa guru hendaknya memilih cara yang relevan dengan isi dan tujuan pelajaran. Cara atau usaha yang sifatnya dicari-cari atau dibuat-buat hendaknya dihindarkan. Ceritera singkat atau lawakan yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran mungkin sementara bisa memikat siswa tetapi akan gagal dalam mewujudkan kelangsungan penguasaan pelajaran
b.Berurutan dan berkesinambungan
Aktivitas yang ditempuh oleh guru dalam memperkenalkan dan merangkum kembali pokok-pokok penting pelajaran hendaknya merupakan bagian dari kesatuan yang utuh. Dalam mewujudkan prinsip berurutan dan berkesinambungan ini perlu diusahakan suatu susunan yang tepat, berhubungan dengan minat siswa, ada kaitannya yang jelas antara satu bagian dengan bagian lainnya, atau ada kaitannya dengan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimilki siswa.
Komponen-Komponen Keterampilan Membuka Pelajaran
Penerapan keterampilan membuka pelajaran pada awal suatu jam pelajaran atau pada setiap penggal kegiatan dalam inti pelajaran, guru harus melakukan kegiatan membuka pelajaran. Komponen-komponen keterampilan membuka pelajaran itu meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberikan acuan dan membuat kaitan. Tiap komponen terdiri dari beberapa kelompok aspek dan kegiatan yang saling berhubungan. Sebagai keterampilan maka sifatnya integratif dan ada beberapa komponen yang tumpang tindih. Komponen-komponen dan aspek-aspeknya menurut Abimanyu (1985) adalah sebagai berikut:
1.Menarik perhatian siswa
Banyak cara yang dapat digunakan guru untuk menarik perhatian siswa, antara lain seperti berikut:
a.Gaya mengajar guru.
Guru hendaknya memvariasikan gaya mengajarnya agar dapat menimbulkan perhatian siswa. Misalnya guru memilih posisi di kelas dan memilih kegiatan yang berbeda dari yang biasanya dia kerjakan dalam membuka pelajaran. Kali ini ia berdiri di tengah-tengah kelas sambil bertanya pada siswa tentang kegiatan siswa di rumah yang mungkin ada hubungannya dengan materi yang akan diajarkan. Pada kesempatan lain mungkin guru berdiri di belakang atau di muka kelas lalu bercerita dengan ekspresi wajah yang meyakinkan dan nada suara yang menunjukkan rasa bangga.
b.Penggunaan alat bantu mengajar
Guru dapat menggunakan alat-alat bantu mengajar seperti gambar, model, skema, dan sebagainya untuk menarik perhatian siswa. Alat-alat bantu mengajar selain dapat menarik perhatian siswa, dapat pula menimbulkan motivasi dan memungkinkan terjadi kaitan antara hal-hal yang telah diketahui dengan hal-hal baru yang akan dipelajari. Misalnya dalam mengajarkan simetri, guru membawa gambar-gambar kupu-kupu, orang, cecak. Kemudian menunjukkan bangun-bangun datar yang akan ditentukan sumbu simetrinya
c.Pola interaksi yang bervariasi
Variasi pola interaksi guru siswa yang biasa, seperti guru menerangkan siswa mendengarkan, atau guru bertanya siswa menjawab, hanya dapat menimbulkan rangsangan permulaan saja. Siswa belum sepenuhnya dapat memusatkan perhatiannya kepada hal-hal yang akan dipelajari. Oleh karena itu, agar siswa dapat tertarik perhatiannya, guru hendaknya mengadakan pola interaksi yang bervariasi dalam menyelenggarakan pembelajaran. Seperti misalnya guru memberi perintah siswa mengerjakan perintah itu, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bertanya, guru atau siswa yang lainya menjawab pertanyaan itu, siswa berinteraksi dengan siswa lainnya dalam diskusi kelompok kecil (buzz-groups) atau dalam suatu eksperimen, guru mengemukakan masalah yang menarik ke seluruh kelas lalu siswa-siswa diminta mengemukakan pendapat mereka, atau guru menunnjukkan barang yang bisa ditonton seperti model-model yang ada manfaatnya lalu siswa diminta untuk melihatnya secara bergiliran baik secara kelompok atau sendiri-sendiri.
2.Menimbulkan motivasi
Salah satu tujuan dari prosedur membuka pelajaran adalah memilih secara hati-hati hal-hal yang menjadi perhatian siswa. Hal-hal yang menjadi perhatian siswa itu hendaknya dapat digunakan untuk menimbulkan motivasi. Dengan adanya motivasi itu, pembelajaran menjadi dipermudah. Oleh karena itu, guru hendaknya melakukan berbagai cara untuk menimbulkan motivasi itu. Sedikitnya ada 4 (empat) cara untuk menimbulkan motivasi, yaitu:
a.Dengan kehangatan dan keantusiasan.
Guru hendaknya bersikap ramah, antusias, bersahabat, dan hangat. Sebab sikap yang demikian itu dapat menimbulkan faktor-faktor dari dalam yang mendorong tingkah laku dan kesenangan dalam mengerjakan tugas. Siswa akan timbul motivasinya untuk belajar.
b.Dengan menimbulkan rasa ingin tahu
Guru dapat membangkitkan motivasi siswa dengan cara menimbulkan rasa ingin tahu dan keheranan pada siswa. Misalnya ibu akan membunyikan jari ibu. Satu menit berikutnya ibu akan membunyikan lagi. Kemudian membunyikan lagi dua menit sesudah itu, lalu empat menit, delapan menit, enam belas menit dan seterusnya. Setiap kali ibu melipatduakan menitnya. Berapa kali ibu akan membunyikan jari tangan ibu selama satu jam. Cara-cara ini sangat baik untuk menimbulkan motivasi siswa.
c.Mengemukakan ide yang bertentangan
Untuk menimbulkan motivasi siswa, guru dapat melontarkan ide-ide yang bertentangan dengan mengajukan masalah atau kondisi-kondisi dari kenyataan sehari-hari. Misalnya, guru mengajukan masalah sebagai berikut: “Balok merupakan bangun dimensi tiga yang mempunyai panjang, lebar dan tinggi, jadi balok termasuk bangun ruang. Kerucut tidak mempunyai panjang dan lebar tetapi masih termasuk bangun ruang. Mengapa?”
d.Dengan memperhatikan minat siswa
Guru dapat menimbulkan motivasi siswa dengan cara menyesuaikan topik-topik pelajaran yang diminati siswa. Untuk memperhatikan minat siswa dalam pembelajaran matematika dapat diberikan contoh sebagai berikut. Meminta siswa membuat dugaan tentang ukuran suatu benda. Berapa kira-kira banyaknya air yang dapat dimasukkan dalam suatu drum sampai penuh. Atau contoh lain, berapa kilo berat uang logam sebanyak seratus rupiah. Contoh-contoh tersebut sangat menarik minat siswa dalam mengikuti pelajaran.
3.Memberi acuan (structuring)
Memberi acuan diartikan sebagai usaha mengemukakan secara spesifik dan singkat serangkaian alternatif yang memungkinkan siswa memperoleh gambaran yang jelas mengenai hal-hal yang akan dipelajari dan cara yang hendak ditempuh dalam mempelajari materi pelajaran. Untuk itu usaha dan cara yang dapat dilakukan oleh guru adalah:
a.Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas.
Guru hendaknya terlebih dahulu mengemukakan tujuan pelajaran dan batas-batas tugas yang harus dikerjakan oleh siswa, agar mereka memperoleh gambaran yang jelas tentang ruang lingkup materi pelajaran yang akan dipelajari serta tugas-tugas yang harus dikerjakan. Misalnya, guru pertama-tama berkata, hari ini kita akan belajar tentang pengumpulan data. Perhatikan alat peraga yang ibu bawa (timbangan dan meteran). Kumpulkanlah data berat dan tinggi badan teman-temanmu menggunakan alat peraga tesebut.
b.Menyarankan langkah – langkah yang akan dilakukan
Pada permulaan atau pada saat-saat tertentu selama penyajian pelajaran, siswa akan terarah usahanya dalam mempelajari materi pelajaran jika guru dapat memberi saran-saran tentang langkah-langkah kegiatan yang akan dilakukan. Misalnya, tugas kalian sekarang adalah membuktikan rumus volum kerucut dengan pendekatan volum tabung. Langkah yang harus kalian kerjakan adalah pertama memasukkan beras atau pasir ke dalam kerucut, lalu tuangkan beras tersebut ke dalam tabung, lakukan hal tersebut sampai tabung penuh. Kemudian buatlah kesimpulan dari kegiatan yang kalian lakukan.
c.Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan guru untuk mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas. Misalnya dengan mengingatkan siswa untuk menemukan hal-hal positif dari sifat-sifat tentang sesuatu konsep, manusia, benda, gambar-gambar, dan sebagainya. Di samping hal-hal positif, kemudian siswa perlu pula diingatkan untuk menemukan hal-hal yang negatif, yang hilang atau yang kurang lengkap. Misalnya guru berkata: Amatilah macam-macam model bangun datar segitiga ini, jelaskan mengapa ada yang disebut segitiga samakaki, segitiga samasisi, dan segitiga sembarang, serta ada yang bukan disebut model bangun datar segitiga.
d.Mengajukan pertanyaan – pertanyaan
Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru sebelum mulai menjelaskan materi pelajaran akan mengarahkan siswa dalam mengantisipasi isi pelajaran yang akan dipelajari. Misalnya, sebelum menjelaskan cara membagi dua pecahan, guru dapat mengajukan pertanyaan sebagai berikut, ibu mempunyai setengah loyang kue, kue tersebut akan dibagi dua sama besar dan akan diberikan pada kedua anaknya, berapa bagiankah kue yang diterima masing-masing anaknya? Dengan pertanyaan tersebut diharapkan dapat membantu siswa untuk memahami cara membagi dua pecahan.
4.Membuat kaitan
Jika guru akan mengajarkan materi pelajaran yang baru, guru perlu menghubungkannya dengan hal-hal yang telah dikenal siswa atau dengan pengalaman-pengalaman, minat, dan kebutuhan-kebutuhan siswa. Hal itulah yang disebut bahan pengait. Contoh usaha-usaha guru untuk membuat kaitan:
a.Membuat kaitan antar aspek-aspek yang relevan dari bidang studi yang telah dikenal siswa. Dalam permulaan pelajaran guru meninjau kembali sampai seberapa jauh pelajaran yang diberikan sebelumnya telah dipahami. Caranya, guru dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada siswa, tetapi dapat pula merangkum isi materi pelajaran terdahulu secara singkat. Misalnya, sebelum mengajarkan pembagian dua pecahan, guru mengulang kembali bagaimana mengalikan bilangan pecahan.
b.Guru membandingkan atau mempertentangkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah diketahui. Hal ini dilakukan jika bahan baru itu erat kaitannya dengan bahan pelajaran yang telah dikuasai. Misalnya, guru lebih dahulu mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk mengetahui pemahaman siswa tentang pengurangan dan perkalian bilangan cacah sebelum mengajarkan pembagian bilangan cacah.
c.Guru menjelaskan konsep atau pengertiannya lebih dahulu sebelum menyajikan bahan secara terperinci. Hal ini dilakukan karena bahan pelajaran yang akan dijelaskan sama sekali baru. Misalnya, untuk menjelaskan perkalian dua guru terlebih dahulu menjelaskan jumlah kaki unggas, seperti ayam, itik, burung, sepeda, sepeda motor, dan sebagainya.
Komponen-Komponen Keterampilan Menutup Pelajaran
Menjelang akhir dari suatu pelajaran atau pada akhir setiap penggal kegiatan, guru harus melakukan kegiatan menutup pelajaran. Hal ini harus dilakukan agar siswa memperoleh gambaran yang utuh tentang pokok-pokok materi pelajaran yang telah dipelajari. Menurut Abimanyu (1985) cara-cara yang dapat dilakukan guru dalam menutup pelajaran ini adalah sebagai berikut:
1.Meninjau Kembali
Menjelang akhir suatu jam pelajaran atau pada akhir setiap penggal kegiatan, guru meninjau kembali apakah inti pelajaran yang diajarkan telah dikuasai siswa. Ada dua cara meninjau kembali penguasaan inti pelajaran itu, yaitu merangkum inti pelajaran dan membuat ringkasan.
a.Merangkum inti pelajaran.
Pada dasarnya kegiatan merangkum inti pelajaran ini terdapat sepanjang proses pembelajaran. Misalnya, pada saat guru selesai menjelaskan ciri-ciri bangun ruang kubus, atau jika guru membuat kesimpulan secara lisan hasil diskusi yang ditugaskan pada siswa, setelah selesai sejumlah pertanyaan dijawab oleh siswa, pada saat menjelang pergantian topik bahasan, dan tentu saja pada saat pembelajaran akan diakhiri. Selain guru, siswa dapat juga diminta untuk membuat rangkuman secara lisan. Tetapi jika rangkuman yang dibuat oleh siswa itu salah atau kurang sempurna, guru harus membetulkan atau menyempurnakan rangkuman itu.
b.Membuat ringkasan
Cara lain yang dapat ditempuh untuk memantapkan pokok-pokok materi yang diajarkan adalah membuat ringkasan. Selain manfaat tersebut, dengan ringkasan itu siswa yang tidak memiliki buku sumber atau siswa yang lambat belajar dapat mempelajarinya kembali. Pembuatan ringkasan itu dapat dilakukan oleh guru, dapat pula dilakukan oleh siswa secara perorangan atau kelompok, dan dapat pula dilakukan oleh guru dan siswa bersama-sama. Misalnya, setelah pelajaran statistika tentang pengumpulan dan pengolahan data selesai, siswa diminta membuat ringkasan cara mengolah data yang telah dikumpulkan siswa melalui percobaan. Hasil diskusi tersebut ditulis di kertas lebar dan menempelkannya di dinding atau di papan tulis serta mengemukakan hasil rumusan kelompok itu ke seluruh kelas untuk memperoleh tanggapan.
2.Mengevaluasi
Salah satu upaya untuk mengetahui apakah siswa sudah memperoleh wawasan yang utuh tentang suatu konsep yang diajarkan selama satu jam pelajaran atau sepenggal kegiatan tertentu adalah dengan penilaian. Untuk maksud tersebut guru dapat meminta siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan secara lisan atau mengerjakan tugas-tugas.
Bentuk-bentuk evaluasi itu secara terperinci adalah sebagai berikut:
a.Mendemonstrasikan keterampilan.
Pada akhir satu penggal kegiatan siswa dapat diminta untuk mendemonstrasikan keterampilannya. Misalnya, setelah guru selesai menerangkan konsep matematika, guru meminta siswa untuk mengerjakan soal di papan tulis.
b.Mengaplikasikan ide baru pada situasi lain
Misalnya, setelah guru menerangkan penjumlahan dua pecahan lalu siswa disuruh menyelesaikan soal cerita yang berkaitan dengan penjumlahan pecahan.
c.Mengekspresikan pendapat siswa sendiri
Guru dapat meminta siswa untuk memberi komentar tentang keefektifan sesuatu demonstrasi yang dilakukan guru atau siswa-siswa lain. Misalnya, setelah permainan peran (role-playing) tentang aritmatika sosial dalam bahasan pengenalan mata uang selesai, lalu siswa diminta untuk mengemukakan pendapat dan perasaan mereka tentang peran yang dimainkan.
d.Soal – soal tertulis
Guru dapat memberikan soal-soal tertulis untuk dikerjakan siswa. Soal-soal tertulis itu dapat berbentuk uraian, tes objektif, atau melengkapi lembaran kerja.
Penerapan Keterampilan Membuka dan Menutup
Dalam menerapkan keterampilan membuka dan menutup pelajaran pada pembelajaran matematika, cobalah Anda ajak teman sejawat untuk melaksanakan simulasi. Sepuluh siswa sebagai murid, empat teman sejawat untuk mengobservasi dan satu orang sebagai guru. Dari prosedur yang dilakukan observasilah kegiatan tersebut dengan menggunakan lembar observasi keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Berikut ini contoh skenario membuka dan menutup pelajaran untuk pelajaran kelas 4.
Catatan:
1.Untuk keperluan ini dipersiapkan model-model bangun ruang kubus dan balok, benda-benda kubus dan balok yang ada di lingkungan siswa, serta gambar-gambar model kubus dan balok (kotak pasta gigi, kotak korek api, dadu, kotak susu, kotak kue, dll)
2.Usaha rutin guru seperti selamat pagi, mengabsen, mengatur tempat duduk, memeriksa alat-alat belajar, dan sebagainya tidak dicantumkan dalam naskah pembicaraan guru ini.
G: Anak-anak, hari ini kita akan melanjutkan pelajaran matematika. Perhatikan baik-baik benda-benda yang ibu bawa ini, coba sebutkan satu persatu nama benda ini! Ya, kamu Tuti!
G: Ya, benar sekali jawabanmu Tuti. Benda-benda ini ada hubungannya dengan materi yang akan kita bahas hari ini. (Guru menuliskan topik di papan tulis). Dalam pembelajaran ini ibu mengharapkan kalian mengetahui hal-hal sebagai berikut: (guru mengucapkan lalu menulis di papan tulis)
Perbedaan bangun kubus dan bangun balok
Nah anak-anak marilah kita mulai membicarakan tentang ciri-ciri bangun kubus, dan bangun balok. Siapa yang mau mencoba menjelaskan mengapa bangun ini disebut kubus dan ini disebut balok? Ya, Tuti!
T: Balok panjang dan kubus pendek.
G: Siapa lagi yang ingin mencoba menjawab? (belum ada tanda-tanda siswa akan menjawab). Coba kalian bandingkan rusuk setiap kubus dan rusuk setiap balok. Bagaimana Ida?
I: Rusuk kubus lebih pendek dari rusuk balok
G: Marilah sekarang kita ukur panjang masing-masing rusuk setiap bangun ini. (Guru membagikan model-model bangun kubus dan balok perkelompok) Amati baik-baik bangun tersebut lalu ukurlah rusuk-rusuknya dan tuliskan dibuku hasil ukurannya. Untuk kegiatan ini ibu beri waktu 10 menit. Ada yang masih kurang jelas? (Siswa mengukur rusuk-rusuk kubus dan rusuk balok dengan mistar, guru berkeliling mengawasi dan memberi bantuan bila diperlukan)
Nah anak-anak, siapa yang igin mencoba melaporkan hasil pengukurannya? ... Heni.
H: Semua rusuk kubus sama panjang, sedangkan rusuk balok tidak.
G: Ya, betul. Siapa lagi yang ingin menambahkan menambah jawaban Heni? Nah anak-anak kalau kita lihat hasil pengukuran setiap kelompok, maka dapat kita simpulkan bahwa: keenam rusuk kubus sama panjang, sedangkan rusuk balok tidak sama panjang. Ada yang ingin bertanya?
S: Tidak bu, sudah jelas (hampir bersama-sama)
G: Nah anak-anak, kalian sudah mengetahui perbedaan rusuk kubus dan rusuk balok, sekarang coba anak-anak lihat bagaimana dengan masing-masing sisinya? Bandingkan lah semua sisinya, apa yang dapat kalian simpulkan?
H: Sisi kubus sama besar dan sisis balok tidak sama besar
G: Bagus sekali Heni.
Nah anak-anak, kalian sudah mengetahui beda kubus dan balok, siapa yang dapat menyimpulkan apa perbedaan kubus dan balok? ... Ani!
A: Kubus mempunyai rusuk dan sisi yang sama ukurannya, sedangkan balok tidak sama ukurannya.
G: Pintar sekali kamu Ani! Untuk memperdalam materi kita hari ini, coba kalian di rumah menuliskan bermacam jenis benda yang ada di rumahmu yang berbentuk kubus dan balok.